Minggu, 10 Maret 2013

Aku, Batu, dan Impianku


Aku menghela nafas panjang, melepas semua kekecewaan yang selama aku pendam sendirian. Ingin rasanya aku berteriak sekeras – kerasnya, meluapkan segala kepenatan dan tekanan batin yang selama ini mendera. Ya, aku gagal lagi, untuk yang kesekian kali.
Aku masih memutar – mutar mouse optik Logitech di kafe internet ini, memelototi barisan nama yang seolah menjadi hall of fame pada ujian seleksi masuk Universitas Gadjah Mada. Aku masih berusaha tidak percaya bahwa namaku tidak ada diantara ribuan orang tersebut. Setengah kesal aku mencari, namun namaku tetap tidak ada diantara peserta dari seluruh penjuru nusantara. Akhirnya aku menyerah dan menerima kenyataan, seraya menutup firefox dan segera berjalan menuju operator.
“Mas, nomor 13 berapa?” tanyaku sambil merogoh dompet di kantong samping.
“Empat ribu lima ratus, mbak. Belum di log out ya komputernya?” tanya sang operator dengan penuh selidik.
“Eh, iya mas, maaf lupa. Tadi saya buru – buru” aku berusaha menutupi sikap acuhku dengan menyerahkan selembar lima ribuan.
“Kembaliannya gak usah, mas” aku segera bergegas pergi dengan membawa seribu perasaan kecewa.
Aku berjalan menghampiri si Moti yang duduk bersandar manis pada tembok. Moti merupakan salah satu sahabat yang telah menemani diriku sejak tiga tahun yang lalu. Ayahku memberikannya kepadaku sebagai hadiah ulang tahun yang ke-15. Ya, Moti merupakan sepeda kesayanganku yang selalu menemani aku disaat susah maupun senang. Aku senang karena Moti selalu mengerti perasaanku, saat aku sedih atau bosan dia selalu mau menemaniku pergi ke tempat – tempat yang indah. Dia selalu bisa mengantarkan ke tempat yang aku mau tanpa pernah menolaknya. Begitu pula saat aku senang, Moti tidak pernah absen menemaniku jalan – jalan.
Aku segera mengayuh Moti keluar area kafe. Aku ingin berkeluh kesah dan mencari suasana baru agar aku segera melupakan hasil seleksi tersebut. Moti pun mengerti perasaanku dan dengan senang hati menemaniku berjalan – jalan. Kali ini tempat tujuanku adalah taman kota yang terletak di seberang alun – alun. Tempat itu merupakan tempat favoritku untuk melepas penat dari permasalahan yang aku hadapi.
Aku mengayuh Moti dengan kencang, ingin segera sampai di tempat tujuan. Aku memilih jalan pintas yang notabene sedang diperbaiki dan memiliki turunan yang agak curam. Moti berusaha memperingatkanku dengan bunyi rantai yang gemeretak tak normal. Aku tidak peduli dan tetap memilih jalan pintas.
Segera setelah menyeberang, aku memasuki jalan pintas tersebut. Di permulaan jalan, aku sudah disambut dengan papan tulis peringatan “Stop! Ada perbaikan jalan! jalan licin dan turunan tajam!”. Namun aku tetap bersikukuh dengan pendirianku dan menganggap bahwa tulisan itu hanyalah retorika agar jalan tersebut tidak dilewati oleh penduduk non pribumi.
Aku mulai menyusuri jalanan berkerikil tajam dan beralaskan tanah. Di samping jalan aku melihat timbunan material pasir, kerikil, dan batuan kali yang berukuran besar. Pikiranku segera berkhayal liar membayangkan bahwa aku menjadi raksasa yang berjalan melewati timbunan material berbentuk gunung – gunung mini di kanan dan kiri jalan. Ditambah dengan suasana yang sunyi,  seolah semua kehidupan takut akan raksasa yang tengah melewati kawasan mereka. Aku tertawa puas dan merasa bahwa semua wilayah ini adalah daerah kekuasaanku. Well, sepertinya aku terlalu banyak berkhayal. Dan akhirnya khayalanku selesai ketika aku tiba di ujung jalanan datar.
Aku tiba di jalanan yang becek dan awal dari turunan curam. Di seberang bawah aku melihat para pekerja sedang asyik duduk bercengkrama sambil menikmati es teh segar dengan beberapa gorengan. Aku mulai memperlambat kayuhanku dan tiba – tiba, krak!!! Rantai Moti terlepas dan dengan refleks aku menghentikan laju Moti dengan rem belakang. Moti sepertinya masih mencoba memperingatkanku akan bahaya yang bisa saja menimpa diriku. Aku segera membetulkannya dan kembali mengayuh jalanan yang berlumpur dan menurun tajam. Dengan hati – hati aku berusaha mengendalikan pemberontakan Moti dengan rem depan dan belakang.
“Ayolah Moti, ini aman. Tenang saja!” aku berbisik pelan kepada Moti.
Dari kejauhan, tampak salah satu pekerja tersadar dengan kehadiranku. Dengan refleks dia segera berlari dan memperingatkanku akan lubang besar yang berjarak 10 meter di depan dan batu seukuran motor yang setengah tertanam di tanah menghadangku.
“Awas, ada lubang di depan!! Berhenti, Nak!!”
Aku segera tersadar, namun jalanan yang licin membuatku sangat sulit mengendalikan Moti. Aku segera menarik rem depan dan belakang bersamaan, namun justru Moti tergelincir dan akhirnya, bruuk!!!! Aku pun terjatuh di lubang tersebut sementara Moti membentur batu besar. Badanku pun berlumuran lumpur.
“Aduuuh, sakiiit!!” aku meringis kesakitan sambil memegangi pergelangan kaki kiriku.
“Hei, kamu tidak apa – apa, Nak?” pekerja tadi segera menghampiriku dengan tergesa – gesa mencoba menolongku.
Beberapa temannya segera melompat ke dalam lubang yang dalamnya mencapai setengah meter tersebut.
“Sepertinya dia terkilir, tapi tidak ada luka luar! Rano, bantu aku angkat anak ini! Sunar dan Pak Yoto tolong angkat sepedanya!” teriak salah satu pekerja. Sekilas aku berpikir, orang tersebut adalah bos disini.
Aku segera di bopong oleh Pak Rano dan Pak Romo. Mereka berdua adalah tukang batu yang mendapat pekerjaan disini. Mereka langsung mendudukkanku di seberang jalan kering.
“Nak, siapa namamu?” tanya Pak Romo lembut.
“Risma, Pak. Terima kasih telah membantu saya. Uhhhh...” aku masih meringis kesakitan sambil memegangi pergelangan kaki kiriku.
“Nak Risma, kenapa kamu lewat jalan ini? Kan di depan sudah ada papan peringatan? “ Pak Romo dengan sabarnya menanyai diriku.
“Maaf, Pak. Risma pengen ke taman kota. Risma pengen cepet – cepet sampai makanya Risma lewat jalan ini” aku tertunduk sambil sesenggukan takut dimarahi.
“Kenapa kamu buru – buru? Kan masih ada jalan lain yang lebih bagus dan aman, ya kan?” pak Romo sangat sabar dan sopan dalam berucap, mengingatkanku pada sosok ayahku yang telah meninggal tiga tahun yang lalu.
“Maaaaf, Pak. Saya sedang sedih dan kecewa. Saya ingin segera sampai di taman kota karena disanalah saya biasanya menghibur diri” aku yang tidak bisa berbohong akhirnya menceritakan segala kegundahanku pada pak Romo dan beberapa pekerja yang lain ikut mendengarkan.
Setelah bercerita panjang lebar sekitar 20 menit, aku merasa lega. Selama ini aku jarang sekali bercerita kepada orang lain semenjak ayahku meninggal. Aku lebih memilih menyendiri dan menghibur diri bersama dengan Moti. Namun, kali ini aku merasa sangat nyaman bercerita kepada pak Romo. Beliau mengingatkanku pada sosok ayahku yang selalu mendengar keluh kesahku dan memberikan nasehat yang sangat luar biasa bagiku.
“Nak, dulu Bapak juga mempunyai anak perempuan seumuran kamu. Namun, dia meninggal karena sakit 6 tahun yang lalu. Kondisinya mirip seperti kamu, dia gagal masuk SMP favorit dan dia sangat kecewa sampai beberapa hari susah makan dan akhirnya sakit. Keluarga Bapak yang tidak mempunyai uang hanya bisa membawanya berobat ke puskesmas sedangkan sakitnya semakin parah dan akhirnya meninggal” pak Romo bercerita sambil matanya berkaca – kaca.
“Risma turut berduka cita, Pak. Pasti Bapak sangat sayang kepada anak Bapak”
“Iya, Bapak sangat sayang sama dia. Dan bapak tidak mau kejadian seperti itu terulang kepada anak lain. Kalian generasi muda harus semangat dan jangan mau bernasib sama dengan kami para tukang batu” air mata pun meleleh dari pelupuk mata Pak Romo.
“Tapi Bapak harus tetap bersyukur dengan kehidupan Bapak, Tuhan Maha Adil kok, Pak” aku berusaha tersenyum menghibur Pak Romo.
“Benar, Nak. Bapak pasti selalu bersyukur. Walaupun Bapak tukang batu, tapi Bapak menikmati pekerjaan ini. Coba lihat batu itu“ Pak Romo menunjuk batu besar berada di dekat lubang aku terjatuh tadi.
“Jika kamu memukul batu besar itu mungkin akan pecah dengan 100 pukulan. Tapi apakah pukulan terakhir yang menyebabkan batu itu pecah?” Pak Romo menatap mataku dengan mata berkaca – kaca.
 “Batu itu bukan pecah karena pukulan keseratus, Nak. Batu itu pecah karena semua pukulan-pukulan sebelumnya!” Pak Romo nampak tersenyum sambil mengusap air matanya.
“Layaknya sebuah menghancurkan batu, impian akan didapat dengan usaha yang berulang – ulang, Nak. Semakin besar impian kamu, semakin besar juga usaha yang harus kamu lakukan. Kamu mungkin gagal kali ini, tapi masih ada kesempatan dan jika kamu berusaha terus pasti impianmu akan menjadi kenyataaan!” Pak Romo menepuk bahuku sambil memberikan senyum terbaiknya.
Aku sangat terkesima dengan ucapan Pak Romo. Semangatku pun berkobar menuju level tertinggi. Betapa bodohnya aku selama ini hanya menjadi simple minded. Aku yang secara teori lebih intelek kali ini benar – benar kalah oleh tukang batu yang mungkin tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Terkadang pikiran yang rasional justru membuatku menderita dan tidak mensyukuri apa yang aku dapat selama ini.
Aku pun tersenyum. Bangkit dari kegelapan hati dan kekecewaan yang selalu menghantui diriku. Kini dengan semangat baru aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu mensyukuri apa yang aku dapat sambil terus mencoba mewujudkan impianku untuk masuk perguruan tinggi.
Aku segera bangkit dan mengucapkan beribu terima kasih kepada Pak Romo dan kawan – kawannya. Aku menolak tawaran mereka untuk menyantap makan siang bersama dan memilih untuk meneruskan perjalanan. Kali ini bukan ke taman, melainkan ke rumah karena bajuku yang penuh lumpur.
Dengan sedikit terpincang, aku diantar oleh Pak Romo menuju ke ujung turunan. Setelah membersihkan diri aku pamit. Aku berusaha meyakinkan bahwa aku tidak apa – apa karena Pak Romo memaksa untuk mengantarkanku. Namun, akhirnya dia mengerti dan membiarkanku pulang sendiri menuju rumah ditemani oleh sahabatku, Moti. Aku tersenyum dan tak berhenti mengucap rasa syukur atas pelajaran yang aku terima hari ini. Terima kasih Moti, terima kasih Pak Romo, terima kasih Tuhan.
                                                       


Tidak ada komentar:

Posting Komentar