Aku menghela
nafas panjang, melepas semua kekecewaan yang selama aku pendam sendirian. Ingin
rasanya aku berteriak sekeras – kerasnya, meluapkan segala kepenatan dan
tekanan batin yang selama ini mendera. Ya, aku gagal lagi, untuk yang kesekian
kali.
Aku masih
memutar – mutar mouse optik Logitech
di kafe internet ini, memelototi barisan nama yang seolah menjadi hall of fame pada ujian seleksi masuk Universitas
Gadjah Mada. Aku masih berusaha tidak percaya bahwa namaku tidak ada diantara ribuan
orang tersebut. Setengah kesal aku mencari, namun namaku tetap tidak ada
diantara peserta dari seluruh penjuru nusantara. Akhirnya aku menyerah dan
menerima kenyataan, seraya menutup firefox
dan segera berjalan menuju operator.
“Mas, nomor 13
berapa?” tanyaku sambil merogoh dompet di kantong samping.
“Empat ribu lima
ratus, mbak. Belum di log out ya
komputernya?” tanya sang operator dengan penuh selidik.
“Eh, iya mas,
maaf lupa. Tadi saya buru – buru” aku berusaha menutupi sikap acuhku dengan
menyerahkan selembar lima ribuan.
“Kembaliannya
gak usah, mas” aku segera bergegas pergi dengan membawa seribu perasaan kecewa.
Aku berjalan
menghampiri si Moti yang duduk bersandar manis pada tembok. Moti merupakan
salah satu sahabat yang telah menemani diriku sejak tiga tahun yang lalu.
Ayahku memberikannya kepadaku sebagai hadiah ulang tahun yang ke-15. Ya, Moti
merupakan sepeda kesayanganku yang selalu menemani aku disaat susah maupun
senang. Aku senang karena Moti selalu mengerti perasaanku, saat aku sedih atau
bosan dia selalu mau menemaniku pergi ke tempat – tempat yang indah. Dia selalu
bisa mengantarkan ke tempat yang aku mau tanpa pernah menolaknya. Begitu pula
saat aku senang, Moti tidak pernah absen menemaniku jalan – jalan.
Aku segera
mengayuh Moti keluar area kafe. Aku ingin berkeluh kesah dan mencari suasana
baru agar aku segera melupakan hasil seleksi tersebut. Moti pun mengerti
perasaanku dan dengan senang hati menemaniku berjalan – jalan. Kali ini tempat
tujuanku adalah taman kota yang terletak di seberang alun – alun. Tempat itu
merupakan tempat favoritku untuk melepas penat dari permasalahan yang aku
hadapi.
Aku mengayuh
Moti dengan kencang, ingin segera sampai di tempat tujuan. Aku memilih jalan
pintas yang notabene sedang diperbaiki dan memiliki turunan yang agak curam.
Moti berusaha memperingatkanku dengan bunyi rantai yang gemeretak tak normal.
Aku tidak peduli dan tetap memilih jalan pintas.
Segera setelah
menyeberang, aku memasuki jalan pintas tersebut. Di permulaan jalan, aku sudah
disambut dengan papan tulis peringatan “Stop! Ada perbaikan jalan! jalan licin
dan turunan tajam!”. Namun aku tetap bersikukuh dengan pendirianku dan
menganggap bahwa tulisan itu hanyalah retorika agar jalan tersebut tidak
dilewati oleh penduduk non pribumi.
Aku mulai
menyusuri jalanan berkerikil tajam dan beralaskan tanah. Di samping jalan aku
melihat timbunan material pasir, kerikil, dan batuan kali yang berukuran besar.
Pikiranku segera berkhayal liar membayangkan bahwa aku menjadi raksasa yang
berjalan melewati timbunan material berbentuk gunung – gunung mini di kanan dan
kiri jalan. Ditambah dengan suasana yang sunyi,
seolah semua kehidupan takut akan raksasa yang tengah melewati kawasan
mereka. Aku tertawa puas dan merasa bahwa semua wilayah ini adalah daerah
kekuasaanku. Well, sepertinya aku
terlalu banyak berkhayal. Dan akhirnya khayalanku selesai ketika aku tiba di
ujung jalanan datar.
Aku tiba di
jalanan yang becek dan awal dari turunan curam. Di seberang bawah aku melihat
para pekerja sedang asyik duduk bercengkrama sambil menikmati es teh segar
dengan beberapa gorengan. Aku mulai memperlambat kayuhanku dan tiba – tiba,
krak!!! Rantai Moti terlepas dan dengan refleks aku menghentikan laju Moti
dengan rem belakang. Moti sepertinya masih mencoba memperingatkanku akan bahaya
yang bisa saja menimpa diriku. Aku segera membetulkannya dan kembali mengayuh
jalanan yang berlumpur dan menurun tajam. Dengan hati – hati aku berusaha
mengendalikan pemberontakan Moti dengan rem depan dan belakang.
“Ayolah Moti,
ini aman. Tenang saja!” aku berbisik pelan kepada Moti.
Dari kejauhan,
tampak salah satu pekerja tersadar dengan kehadiranku. Dengan refleks dia
segera berlari dan memperingatkanku akan lubang besar yang berjarak 10 meter di
depan dan batu seukuran motor yang setengah tertanam di tanah menghadangku.
“Awas, ada
lubang di depan!! Berhenti, Nak!!”
Aku segera
tersadar, namun jalanan yang licin membuatku sangat sulit mengendalikan Moti.
Aku segera menarik rem depan dan belakang bersamaan, namun justru Moti tergelincir
dan akhirnya, bruuk!!!! Aku pun terjatuh di lubang tersebut sementara Moti
membentur batu besar. Badanku pun berlumuran lumpur.
“Aduuuh,
sakiiit!!” aku meringis kesakitan sambil memegangi pergelangan kaki kiriku.
“Hei, kamu tidak
apa – apa, Nak?” pekerja tadi segera menghampiriku dengan tergesa – gesa
mencoba menolongku.
Beberapa
temannya segera melompat ke dalam lubang yang dalamnya mencapai setengah meter
tersebut.
“Sepertinya dia
terkilir, tapi tidak ada luka luar! Rano, bantu aku angkat anak ini! Sunar dan
Pak Yoto tolong angkat sepedanya!” teriak salah satu pekerja. Sekilas aku
berpikir, orang tersebut adalah bos disini.
Aku segera di
bopong oleh Pak
Rano dan Pak
Romo. Mereka berdua adalah tukang batu yang mendapat pekerjaan disini. Mereka
langsung mendudukkanku di seberang jalan kering.
“Nak, siapa
namamu?” tanya Pak
Romo lembut.
“Risma, Pak.
Terima kasih telah membantu saya. Uhhhh...” aku masih meringis kesakitan sambil
memegangi pergelangan kaki kiriku.
“Nak Risma,
kenapa kamu lewat jalan ini? Kan di depan sudah ada papan peringatan? “ Pak
Romo dengan sabarnya menanyai diriku.
“Maaf, Pak.
Risma pengen ke taman kota. Risma pengen cepet – cepet sampai makanya Risma
lewat jalan ini” aku tertunduk sambil sesenggukan takut dimarahi.
“Kenapa kamu
buru – buru? Kan masih ada jalan lain yang lebih bagus dan aman, ya kan?” pak
Romo sangat sabar dan sopan dalam berucap, mengingatkanku pada sosok ayahku
yang telah meninggal tiga tahun yang lalu.
“Maaaaf, Pak.
Saya sedang sedih dan kecewa. Saya ingin segera sampai di taman kota karena
disanalah saya biasanya menghibur diri” aku yang tidak bisa berbohong akhirnya
menceritakan segala kegundahanku pada pak Romo dan beberapa pekerja yang lain
ikut mendengarkan.
Setelah
bercerita panjang lebar sekitar 20 menit, aku merasa lega. Selama ini aku
jarang sekali bercerita kepada orang lain semenjak ayahku meninggal. Aku lebih
memilih menyendiri dan menghibur diri bersama dengan Moti. Namun, kali ini aku
merasa sangat nyaman bercerita kepada pak Romo. Beliau mengingatkanku pada
sosok ayahku yang selalu mendengar keluh kesahku dan memberikan nasehat yang
sangat luar biasa bagiku.
“Nak, dulu Bapak
juga mempunyai anak perempuan seumuran kamu. Namun, dia meninggal karena sakit
6 tahun yang lalu. Kondisinya mirip seperti kamu, dia gagal masuk SMP favorit
dan dia sangat kecewa sampai beberapa hari susah makan dan akhirnya sakit.
Keluarga Bapak yang tidak mempunyai uang hanya bisa membawanya berobat ke
puskesmas sedangkan sakitnya semakin parah dan akhirnya meninggal” pak Romo bercerita
sambil matanya berkaca – kaca.
“Risma turut
berduka cita, Pak. Pasti Bapak sangat sayang kepada anak Bapak”
“Iya, Bapak
sangat sayang sama dia. Dan bapak tidak mau kejadian seperti itu terulang
kepada anak lain. Kalian generasi muda harus semangat dan jangan mau bernasib
sama dengan kami para tukang batu” air mata pun meleleh dari pelupuk mata Pak Romo.
“Tapi Bapak
harus tetap bersyukur dengan kehidupan Bapak, Tuhan Maha Adil kok, Pak” aku
berusaha tersenyum menghibur Pak
Romo.
“Benar, Nak.
Bapak pasti selalu bersyukur. Walaupun Bapak tukang batu, tapi Bapak menikmati
pekerjaan ini. Coba lihat batu itu“ Pak
Romo menunjuk batu besar berada di dekat lubang aku terjatuh tadi.
“Jika kamu
memukul batu besar itu mungkin akan pecah dengan 100 pukulan. Tapi apakah
pukulan terakhir yang menyebabkan batu itu pecah?” Pak Romo menatap mataku dengan
mata berkaca – kaca.
“Batu itu bukan pecah karena pukulan
keseratus, Nak. Batu itu pecah karena semua pukulan-pukulan sebelumnya!” Pak Romo nampak
tersenyum sambil mengusap air matanya.
“Layaknya sebuah
menghancurkan batu, impian akan didapat dengan usaha yang berulang – ulang, Nak.
Semakin besar impian kamu, semakin besar juga usaha yang harus kamu lakukan. Kamu
mungkin gagal kali ini, tapi masih ada kesempatan dan jika kamu berusaha terus
pasti impianmu akan menjadi kenyataaan!” Pak
Romo menepuk bahuku sambil memberikan senyum terbaiknya.
Aku sangat
terkesima dengan ucapan Pak
Romo. Semangatku pun berkobar menuju level tertinggi. Betapa bodohnya aku
selama ini hanya menjadi simple minded.
Aku yang secara teori lebih intelek kali ini benar – benar kalah oleh tukang
batu yang mungkin tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Terkadang pikiran
yang rasional justru membuatku menderita dan tidak mensyukuri apa yang aku dapat
selama ini.
Aku pun
tersenyum. Bangkit dari kegelapan hati dan kekecewaan yang selalu menghantui
diriku. Kini dengan semangat baru aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu
mensyukuri apa yang aku dapat sambil terus mencoba mewujudkan impianku untuk masuk
perguruan tinggi.
Aku segera
bangkit dan mengucapkan beribu terima kasih kepada Pak Romo dan kawan –
kawannya. Aku menolak tawaran mereka untuk menyantap makan siang bersama dan
memilih untuk meneruskan perjalanan. Kali ini bukan ke taman, melainkan ke
rumah karena bajuku yang penuh lumpur.
Dengan sedikit
terpincang, aku diantar oleh Pak
Romo menuju ke ujung turunan. Setelah membersihkan diri aku pamit. Aku berusaha
meyakinkan bahwa aku tidak apa – apa karena Pak
Romo memaksa untuk mengantarkanku. Namun, akhirnya dia mengerti dan membiarkanku
pulang sendiri menuju rumah ditemani oleh sahabatku, Moti. Aku tersenyum dan
tak berhenti mengucap rasa syukur atas pelajaran yang aku terima hari ini. Terima
kasih Moti, terima kasih Pak
Romo, terima kasih Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar