Minggu, 10 Maret 2013

Pohon Impian


“Kakak, ini soalnya salah gak sih?” seorang anak dari kelompok SD bertanya kepadaku.
“Sini coba kakak lihat. Hmm…gak ada yang salah tuh! Hayoo, kamu ngerjainnya lebih teliti lagi, ya?” aku mengelus kepala anak tersebut sambil tersenyum.
Senang sekali rasanya kembali ke tempat ini. Rumah Pintar atau kami biasa menyebutnya Rupin. Di rumah inilah aku merajut benang – benang mimpi. Dan kini mimpi itu telah menjadi nyata! Aku berhasil menjadi bagian keluarga besar Teknik Metalurgi dan Material Universitas Indonesia.
Rumah ini memang bukan rumah biasa. Walaupun sempit dengan interior yang ala kadarnya, tetapi rumah ini banyak memberi impian pada ratusan anak. Salah satunya adalah aku, Dian Octaviani. Bersama dengan anak – anak jalanan, pengemis, dan anak – anak yang tidak beruntung dalam hal ekonomi, kami membangun rumah ini layaknya sebuah istana megah di tengah perkampungan padat penduduk.
Rasanya baru kemarin aku duduk di posisi pojok dekat pot bunga mawar itu. Berpikir keras menghadapi soal try out yang dibawakan oleh kakak – kakak dari Universitas Indonesia. Dan ternyata sekarang aku kembali sebagai kakak – kakak yang membagikan ilmu kepada mereka. Aku ingin meneteskan air mata jika mengingatnya. Benar – benar impianku kini menjadi kenyataan!
Setahun yang lalu…
Aku adalah siswi SMA Negeri 38 Jakarta. Aku yang duduk di kelas XII ingin sekali melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia. Kamarku yang sempit bahkan aku coret – coret dengan berbagai hal yang berhubungan dengan Universitas Indonesia.
“Dian, ini gorengannya diantar ke Bu Kamti dulu!” teriak ibuku dari dapur belakang.
“Iya, Bu sebentar. Aku beresin buku dulu”
Aku bergegas membereskan buku soal – soal SNMPTN yang berserakan di kasur. Lalu bergegas mengambil baju dan jilbab kurung warna ungu kesukaanku.
“Mana, Bu? Aku udah siap nih!” kataku dengan semangat dan sedikit nyengir kepada ibuku.
“Tuh di meja. Anterin ke Bu Kamti ya”
“Oke, Bu! Aku berangkat dulu ya! Assalamu’alaykum”
“Wa’alaykumussalam. Hati – hati di jalan, Nak!”
Aku segera mengambil sepedaku di ruang tamu. Maklum, rumahku memang sangat sempit dengan dua kamar tidur, satu ruang tamu, dan satu kamar mandi. Walaupun begitu, aku tetap bersyukur karena banyak orang diluar sana yang tidak punya tempat tinggal.
Aku segera mengayuh sepedaku menuju warung Bu Kamti yang berjarak sekitar lima blok dari rumahku. Di tengah perjalanan aku berpapasan dengan Rani, teman satu sekolah sekaligus tetanggaku.
“Dian, berhentiiii!!!” dia menghadangku dari depan.
“Eiitss, ada apa, Ran? Bikin kaget aja kamu ini!”
“Nih, ikutan yuk!” Rani menyerahkan selembar flyer berisi informasi try out gratis yang diadakan Rupin bekerjasama dengan mahasiswa Universitas Indonesia.
“Waah, boleh banget nih! Aku pasti ikutan, kamu juga kan, Ran?” tanyaku dengan penuh kegirangan.
“Iya dong, mumpung diadain hari Minggu. Nanti kita bareng yah?”
“Oke, aku nebeng kamu ya!”
“Sip, apa sih yang gak buat temenku yang jenius ini, hehe”
“Apaan sih, Ran! Aku nganterin gorengan dulu ya?” aku melambaikan tangan kepada Rani yang juga disambut oleh lambaian tangannya.
“Hati – hati ya!”
Aku bergegas melanjutkan perjalanan. Kukayuh sepedaku dengan cepat layaknya Lance Armstrong mengayuh sepedanya pada balapan Tour de France. 10 menit kemudian aku sampai di warung bu Kamti dan menyerahkan gorengan jualan ibuku.
“Ini uangnya, Dian. Kembaliaannya buat jajan kamu saja!” bu Kamti menyerahkan selembar sepuluh ribuan untuk 20 gorengan yang aku bawa tadi.
“Wah, terima kasih banyak ya, Bu!” Aku senang sekali dan segera pamit untuk pulang.
Sesampainya dirumah aku segera menemui ibuku dan menyerahkan hasil jualan gorengan tadi.
“Assalamu’alaykum. Bu, ini uang dari Bu Kamti. Katanya kembalian yang dua ribu buat Dian aja, hehe” aku nyengir kepada Ibu mengharapkan komisi atas kerja kerasku mengantarkan gorengan.
“Nih, ditabung ya!”
“Makasih, Bu. Ibu baik dan cantik banget deh!” aku merayu Ibuku yang memberikanku selembar uang dua ribu rupiah.
Aku pun pergi ke kamar dan mengganti baju. Lalu aku membantu ibu membuat gorengan untuk dijual ke warung – warung sekitar. Ibuku memang bisa dikatakan supplier bagi beberapa warung di sekitar kampungku. Penghasilan yang didapat memang tidak seberapa, namun cukup untuk menambah penghasilan ayahku yang hanya pedagang sayur keliling.
Seharian aku membantu Ibuku. Sangat melelahkan. Aku tahu betapa berat beban yang ditanggung kedua orangtuaku. Maka dari itu, aku tidak pernah meminta hal yang macam – macam. Aku cukup senang dengan kehidupan sederhana seperti ini, walau terkadang aku juga sedih dan hanya bisa melihat banyak temanku yang punya fasilitas mewah.
Sore itu, keluargaku berkumpul di ruang keluarga menikmati acara TV sambil menyantap pisang goreng buatan ibuku. Sore ini aku ingin memberanikan diri mengungkapkan keinginanku untuk kuliah. Ya, selama ini aku tidak pernah memberitahukan segala sesuatu yang berhubungan dengan kuliah kepada ayah dan ibuku.
“Pak, Bu, aku boleh kuliah gak?” tanyaku dengan hati – hati.
Mendengar pertanyaanku, Ayah dan Ibuku yang sedang asyik melihat acara TV langsung menoleh kepadaku.
“Nak, sudah berapa kali Ibu bilang. Kami tidak punya biaya untuk kamu kuliah” Ibuku mendekat lalu memelukku.
“Maafkan kami, Nak. Kami sangat ingin melihatmu kuliah, tetapi itu tidak mungkin” kali ini Ibuku terisak.
Aku yang tidak tega melihat ibuku menangis hanya bisa terdiam dan meneteskan air mata. Aku telah melukai perasaan ibuku.
“Maafin aku, Bu. Tapi aku bener – bener ingin kuliah. Hanya dengan kuliah aku bisa membahagiakan ayah dan ibu”
“Tapi, Nak…untuk hidup sehari – hari saja kita sudah pas – pasan. Bagaimana kalau kamu kuliah nanti? Biayanya dari mana?” Ibuku tambah memelukku dengan erat.
“Bu, di setiap ujung kesusahan pasti ada kemudahan. Allah sudah menjanjikan itu semua untuk kita, Bu. Aku sangat yakin akan hal itu. Pasti ada jalan” aku melepas pelukan Ibuku dan menatap matanya dalam – dalam.
“Bu, benar kata Dian. Biarkan Dian mempunyai keinginan untuk kuliah. Kita sebagai orangtua harus mengerti kemauan anak. Apalagi Dian anak yang cerdas, Ayah yakin pasti Dian jadi orang sukses!” Ayahku yang sedari tadi diam menyimak kini ikut tenggelam dalam pembicaraan kami.
“Iya, Bu. Masalah biaya Ibu gak usah mikirin. Nanti aku bisa cari beasiswa dan cari pekerjaan sampingan”
“Dian, memangnya kamu ingin kuliah dimana?” tanya ayahku penasaran
“Aku ingin masuk Teknik Metalurgi dan Material UI, Pak”
“Apa?!! Kamu tidak salah, Nak? Itu kampus yang sangat mahal!” Ibuku masih bersikeras tidak mengijinkanku kuliah.
“Gak, Bu. Justru UI itu murah, ada sistem BOP Berkeadilan. Nanti biaya kuliah disesuaikan dengan kemampuan bayar orang tua”
“Tapi, Nak. Nanti biaya lain – lain masih banyak. Ibu tidak yakin kami bisa membiayai kamu” kali ini Ibuku menangis tersedu – sedu.
Aku menghela nafas panjang. Mengusap air mata yang membasahi pipi merahku. Lalu setelah tenang, aku berkata lirih.
“Ayah, Ibu, beri aku satu kesempatan. Ayah dan Ibu boleh berkata bahwa aku gila ingin masuk kampus favorit seperti UI. Tapi itu adalah impianku. Aku sudah dewasa dan aku yakin dengan pilihanku. Aku janji kelak jika kuliah aku tidak akan minta uang kepada Ayah dan Ibu. Aku akan mencari beasiswa dan pekerjaan sampingan. Aku hanya ingin menggantungkan mimpiku di atap langit dan membahagiakan kalian berdua jika lulus kelak” aku menatap Ayah dan Ibuku bergantian dan berkata dengan penuh percaya diri.
Ayahku berdiri. Dia menghampiriku lalu memeluk erat aku dan Ibuku.
“Ini waktu yang tepat untuk mewujudkan mimpimu, Nak. Ayah akan berusaha lebih keras untuk mempersiapkan biaya kuliahmu. Dan Ibu, sudah saatnya merpati kita terbang bebas ke angkasa menjemput mimpi dan melihat dunia luar yang indah. Relakanlah dia, Bu. Kita akan berusaha mewujudkan mimpinya” Ayahku meneteskan air mata yang jatuh di pipiku.
Ibuku terdiam dan hanya menangis sesenggukan sambil mengangguk. Terima kasih Ayah. Terima kasih Ibu. Terima kasih ya Allah atas izin – Mu membukakan ridho kedua orangtuaku.
---00---
Seminggu pun berlalu. Kini hari yang aku tunggu tiba. Try out pertama dan terakhir yang aku ikuti. Empat orang memakai jas kuning membawa tumpukan soal dan lembar jawaban yang telah disiapkan sebelumnya. Pada awalnya kami diberikan sedikit arahan tentang pengisian LJK oleh Kak Iman Ramang, koordinator dari pihak mahasiswa UI. Kami dibuat terkagum – kagum dengan suara lantang dan penuh semangat Kak Iman. Aku pun menjadi semakin antusias untuk bisa mengenakan jaket kuning kebanggaan UI.
Setelah persiapan selesai, soal dan LJK pun dibagikan. Aku yang duduk di pojok dekat pot bunga mawar pun tak ingin kalah dengan semangat kakak – kakak yang rela meluangkan waktunya untuk berbagi bersama kami.
“Aku tidak akan melewatkan kesempatan ini, aku akan berusaha maksimal!” teriakku dalam hati.
Dua jam waktu yang diberikan sangat mengasyikkan bagiku. Entah kenapa aku sangat senang hari ini walaupun soal yang aku kerjakan tergolong kategori S. Setelah selesai, satu persatu soal segera dikumpulkan oleh kak Fahmi, yang ternyata adalah mahasiswa Teknik Metalurgi dan Material UI! Aku mengetahuinya saat melihat lambang Teknik Metalurgi dan Material UI di jaket kuning yang dia kenakan.
Setelah try out selesai, ternyata masih ada acara kejutan lain yang dibuat oleh kakak – kakak mahasiswa UI. Mereka membawakan sebuah miniatur pohon dengan banyak cabang yang dibuat dari , ternyata masih ada acara kejutan lain yang dibuat oleh kakak – kakak mahasiswa UI. Mereka membawakan sebuah miniatur pohon dengan banyak cabang yang dibuat dari styrofoam. Kak Iman lalu menjelaskan bahwa pohon ini disebut pohon impian dan semua peserta try out yang berjumlah 36 orang diwajibkan menuliskan impian di selembar kertas lalu menggantungnya di pohon impian.
Aku tanpa basa – basi segera menuliskan impianku pada secarik kertas yang telah disediakan oleh kak Habib, mahasiswa Teknik Mesin UI. Setelah selesai menuliskan impian, kami membacakannya terlebih dahulu di depan peserta lain. Semua tampak antusias dengan acara ini, ada yang menuliskan impian menjadi penulis, ada yang ingin menjadi polisi, pilot, bahkan presiden. Dan kini tiba giliranku untuk membacakan mimpiku.
“Dengan ini, saya Dian Octaviani ingin melanjutkan kuliah di Teknik Metalurgi dan Material UI melalui jalur SNMPTN undangan. Jika pun tidak berhasil saya akan masuk melalui jalur SIMAK. Setelah itu saya akan mendapatkan beasiswa Bidik Misi dan lulus dengan IP diatas 3 lalu melanjutkan studi S2 ke Jepang! Aamiiin…” lalu aku menggantungkan impianku pada pohon impian yang disambut tepuk tangan oleh peserta lainnya.
Aku sangat bahagia hari itu. Aku optimis bisa menjadi bagian dari civitas academica UI dan membahagiakan orangtuaku kelak.
---00---
Aku terbangun dari lamunan panjangku saat salah satu anak menepuk lenganku.
“Kak, ini jawabanku udah selesai”
“Oh, iya..sini kumpulin ke saya”
Aku benar – benar tidak percaya bahwa impian yang aku tuliskan pada pohon impian itu menjadi nyata. Kini aku berada di semester 2. Terlebih lagi aku bisa mendapatkan beasiswa Bidik Misi sehingga aku tidak perlu merepotkan kedua orangtuaku dalam masalah biaya. Terima kasih ya Allah, dan sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. Aku percaya itu.

--00 Selesai 00--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar