“Kakak, ini soalnya
salah gak sih?” seorang anak dari kelompok SD bertanya kepadaku.
“Sini coba kakak lihat.
Hmm…gak ada yang salah tuh! Hayoo, kamu ngerjainnya lebih teliti lagi, ya?” aku
mengelus kepala anak tersebut sambil tersenyum.
Senang sekali rasanya
kembali ke tempat ini. Rumah Pintar atau kami biasa menyebutnya Rupin. Di rumah
inilah aku merajut benang – benang mimpi. Dan kini mimpi itu telah menjadi
nyata! Aku berhasil menjadi bagian keluarga besar Teknik Metalurgi dan Material
Universitas Indonesia.
Rumah ini memang bukan
rumah biasa. Walaupun sempit dengan interior yang ala kadarnya, tetapi rumah
ini banyak memberi impian pada ratusan anak. Salah satunya adalah aku, Dian
Octaviani. Bersama dengan anak – anak jalanan, pengemis, dan anak – anak yang
tidak beruntung dalam hal ekonomi, kami membangun rumah ini layaknya sebuah
istana megah di tengah perkampungan padat penduduk.
Rasanya baru kemarin
aku duduk di posisi pojok dekat pot bunga mawar itu. Berpikir keras menghadapi
soal try out yang dibawakan oleh
kakak – kakak dari Universitas Indonesia. Dan ternyata sekarang aku kembali
sebagai kakak – kakak yang membagikan ilmu kepada mereka. Aku ingin meneteskan
air mata jika mengingatnya. Benar – benar impianku kini menjadi kenyataan!
Setahun yang lalu…
Aku adalah siswi SMA
Negeri 38 Jakarta. Aku yang duduk di kelas XII ingin sekali melanjutkan
pendidikan di Universitas Indonesia. Kamarku yang sempit bahkan aku coret –
coret dengan berbagai hal yang berhubungan dengan Universitas Indonesia.
“Dian, ini gorengannya
diantar ke Bu Kamti dulu!” teriak ibuku dari dapur belakang.
“Iya, Bu sebentar. Aku
beresin buku dulu”
Aku bergegas
membereskan buku soal – soal SNMPTN yang berserakan di kasur. Lalu bergegas
mengambil baju dan jilbab kurung warna ungu kesukaanku.
“Mana, Bu? Aku udah
siap nih!” kataku dengan semangat dan sedikit nyengir kepada ibuku.
“Tuh di meja. Anterin
ke Bu Kamti ya”
“Oke, Bu! Aku berangkat
dulu ya! Assalamu’alaykum”
“Wa’alaykumussalam.
Hati – hati di jalan, Nak!”
Aku segera mengambil
sepedaku di ruang tamu. Maklum, rumahku memang sangat sempit dengan dua kamar
tidur, satu ruang tamu, dan satu kamar mandi. Walaupun begitu, aku tetap
bersyukur karena banyak orang diluar sana yang tidak punya tempat tinggal.
Aku segera mengayuh
sepedaku menuju warung Bu Kamti yang berjarak sekitar lima blok dari rumahku.
Di tengah perjalanan aku berpapasan dengan Rani, teman satu sekolah sekaligus
tetanggaku.
“Dian, berhentiiii!!!”
dia menghadangku dari depan.
“Eiitss, ada apa, Ran?
Bikin kaget aja kamu ini!”
“Nih, ikutan yuk!” Rani
menyerahkan selembar flyer berisi
informasi try out gratis yang
diadakan Rupin bekerjasama dengan mahasiswa Universitas Indonesia.
“Waah, boleh banget
nih! Aku pasti ikutan, kamu juga kan, Ran?” tanyaku dengan penuh kegirangan.
“Iya dong, mumpung
diadain hari Minggu. Nanti kita bareng yah?”
“Oke, aku nebeng kamu
ya!”
“Sip, apa sih yang gak
buat temenku yang jenius ini, hehe”
“Apaan sih, Ran! Aku
nganterin gorengan dulu ya?” aku melambaikan tangan kepada Rani yang juga
disambut oleh lambaian tangannya.
“Hati – hati ya!”
Aku bergegas
melanjutkan perjalanan. Kukayuh sepedaku dengan cepat layaknya Lance Armstrong
mengayuh sepedanya pada balapan Tour de France. 10 menit kemudian aku sampai di
warung bu Kamti dan menyerahkan gorengan jualan ibuku.
“Ini uangnya, Dian.
Kembaliaannya buat jajan kamu saja!” bu Kamti menyerahkan selembar sepuluh
ribuan untuk 20 gorengan yang aku bawa tadi.
“Wah, terima kasih
banyak ya, Bu!” Aku senang sekali dan segera pamit untuk pulang.
Sesampainya dirumah aku
segera menemui ibuku dan menyerahkan hasil jualan gorengan tadi.
“Assalamu’alaykum. Bu,
ini uang dari Bu Kamti. Katanya kembalian yang dua ribu buat Dian aja, hehe”
aku nyengir kepada Ibu mengharapkan komisi atas kerja kerasku mengantarkan
gorengan.
“Nih, ditabung ya!”
“Makasih, Bu. Ibu baik
dan cantik banget deh!” aku merayu Ibuku yang memberikanku selembar uang dua
ribu rupiah.
Aku pun pergi ke kamar
dan mengganti baju. Lalu aku membantu ibu membuat gorengan untuk dijual ke
warung – warung sekitar. Ibuku memang bisa dikatakan supplier bagi beberapa warung di sekitar kampungku. Penghasilan
yang didapat memang tidak seberapa, namun cukup untuk menambah penghasilan
ayahku yang hanya pedagang sayur keliling.
Seharian aku membantu
Ibuku. Sangat melelahkan. Aku tahu betapa berat beban yang ditanggung kedua
orangtuaku. Maka dari itu, aku tidak pernah meminta hal yang macam – macam. Aku
cukup senang dengan kehidupan sederhana seperti ini, walau terkadang aku juga
sedih dan hanya bisa melihat banyak temanku yang punya fasilitas mewah.
Sore itu, keluargaku
berkumpul di ruang keluarga menikmati acara TV sambil menyantap pisang goreng
buatan ibuku. Sore ini aku ingin memberanikan diri mengungkapkan keinginanku
untuk kuliah. Ya, selama ini aku tidak pernah memberitahukan segala sesuatu
yang berhubungan dengan kuliah kepada ayah dan ibuku.
“Pak, Bu, aku boleh
kuliah gak?” tanyaku dengan hati – hati.
Mendengar pertanyaanku,
Ayah dan Ibuku yang sedang asyik melihat acara TV langsung menoleh kepadaku.
“Nak, sudah berapa kali
Ibu bilang. Kami tidak punya biaya untuk kamu kuliah” Ibuku mendekat lalu
memelukku.
“Maafkan kami, Nak.
Kami sangat ingin melihatmu kuliah, tetapi itu tidak mungkin” kali ini Ibuku
terisak.
Aku yang tidak tega
melihat ibuku menangis hanya bisa terdiam dan meneteskan air mata. Aku telah
melukai perasaan ibuku.
“Maafin aku, Bu. Tapi
aku bener – bener ingin kuliah. Hanya dengan kuliah aku bisa membahagiakan ayah
dan ibu”
“Tapi, Nak…untuk hidup
sehari – hari saja kita sudah pas – pasan. Bagaimana kalau kamu kuliah nanti?
Biayanya dari mana?” Ibuku tambah memelukku dengan erat.
“Bu, di setiap ujung
kesusahan pasti ada kemudahan. Allah sudah menjanjikan itu semua untuk kita,
Bu. Aku sangat yakin akan hal itu. Pasti ada jalan” aku melepas pelukan Ibuku
dan menatap matanya dalam – dalam.
“Bu, benar kata Dian.
Biarkan Dian mempunyai keinginan untuk kuliah. Kita sebagai orangtua harus
mengerti kemauan anak. Apalagi Dian anak yang cerdas, Ayah yakin pasti Dian
jadi orang sukses!” Ayahku yang sedari tadi diam menyimak kini ikut tenggelam
dalam pembicaraan kami.
“Iya, Bu. Masalah biaya
Ibu gak usah mikirin. Nanti aku bisa cari beasiswa dan cari pekerjaan
sampingan”
“Dian, memangnya kamu
ingin kuliah dimana?” tanya ayahku penasaran
“Aku ingin masuk Teknik
Metalurgi dan Material UI, Pak”
“Apa?!! Kamu tidak
salah, Nak? Itu kampus yang sangat mahal!” Ibuku masih bersikeras tidak
mengijinkanku kuliah.
“Gak, Bu. Justru UI itu
murah, ada sistem BOP Berkeadilan. Nanti biaya kuliah disesuaikan dengan
kemampuan bayar orang tua”
“Tapi, Nak. Nanti biaya
lain – lain masih banyak. Ibu tidak yakin kami bisa membiayai kamu” kali ini
Ibuku menangis tersedu – sedu.
Aku menghela nafas
panjang. Mengusap air mata yang membasahi pipi merahku. Lalu setelah tenang,
aku berkata lirih.
“Ayah, Ibu, beri aku
satu kesempatan. Ayah dan Ibu boleh berkata bahwa aku gila ingin masuk kampus
favorit seperti UI. Tapi itu adalah impianku. Aku sudah dewasa dan aku yakin
dengan pilihanku. Aku janji kelak jika kuliah aku tidak akan minta uang kepada
Ayah dan Ibu. Aku akan mencari beasiswa dan pekerjaan sampingan. Aku hanya
ingin menggantungkan mimpiku di atap langit dan membahagiakan kalian berdua
jika lulus kelak” aku menatap Ayah dan Ibuku bergantian dan berkata dengan penuh
percaya diri.
Ayahku berdiri. Dia
menghampiriku lalu memeluk erat aku dan Ibuku.
“Ini waktu yang tepat
untuk mewujudkan mimpimu, Nak. Ayah akan berusaha lebih keras untuk
mempersiapkan biaya kuliahmu. Dan Ibu, sudah saatnya merpati kita terbang bebas
ke angkasa menjemput mimpi dan melihat dunia luar yang indah. Relakanlah dia,
Bu. Kita akan berusaha mewujudkan mimpinya” Ayahku meneteskan air mata yang
jatuh di pipiku.
Ibuku terdiam dan hanya
menangis sesenggukan sambil mengangguk. Terima kasih Ayah. Terima kasih Ibu.
Terima kasih ya Allah atas izin – Mu membukakan ridho kedua orangtuaku.
---00---
Seminggu pun berlalu.
Kini hari yang aku tunggu tiba. Try out
pertama dan terakhir yang aku ikuti. Empat orang memakai jas kuning membawa
tumpukan soal dan lembar jawaban yang telah disiapkan sebelumnya. Pada awalnya
kami diberikan sedikit arahan tentang pengisian LJK oleh Kak Iman Ramang,
koordinator dari pihak mahasiswa UI. Kami dibuat terkagum – kagum dengan suara
lantang dan penuh semangat Kak Iman. Aku pun menjadi semakin antusias untuk
bisa mengenakan jaket kuning kebanggaan UI.
Setelah persiapan
selesai, soal dan LJK pun dibagikan. Aku yang duduk di pojok dekat pot bunga
mawar pun tak ingin kalah dengan semangat kakak – kakak yang rela meluangkan
waktunya untuk berbagi bersama kami.
“Aku tidak akan
melewatkan kesempatan ini, aku akan berusaha maksimal!” teriakku dalam hati.
Dua jam waktu yang
diberikan sangat mengasyikkan bagiku. Entah kenapa aku sangat senang hari ini
walaupun soal yang aku kerjakan tergolong kategori S. Setelah selesai, satu
persatu soal segera dikumpulkan oleh kak Fahmi, yang ternyata adalah mahasiswa
Teknik Metalurgi dan Material UI! Aku mengetahuinya saat melihat lambang Teknik
Metalurgi dan Material UI di jaket kuning yang dia kenakan.
Setelah try out selesai, ternyata masih ada
acara kejutan lain yang dibuat oleh kakak – kakak mahasiswa UI. Mereka
membawakan sebuah miniatur pohon dengan banyak cabang yang dibuat dari ,
ternyata masih ada acara kejutan lain yang dibuat oleh kakak – kakak mahasiswa
UI. Mereka membawakan sebuah miniatur pohon dengan banyak cabang yang dibuat
dari styrofoam. Kak Iman lalu
menjelaskan bahwa pohon ini disebut pohon impian dan semua peserta try out yang berjumlah 36 orang
diwajibkan menuliskan impian di selembar kertas lalu menggantungnya di pohon
impian.
Aku tanpa basa – basi
segera menuliskan impianku pada secarik kertas yang telah disediakan oleh kak
Habib, mahasiswa Teknik Mesin UI. Setelah selesai menuliskan impian, kami
membacakannya terlebih dahulu di depan peserta lain. Semua tampak antusias
dengan acara ini, ada yang menuliskan impian menjadi penulis, ada yang ingin
menjadi polisi, pilot, bahkan presiden. Dan kini tiba giliranku untuk
membacakan mimpiku.
“Dengan ini, saya Dian
Octaviani ingin melanjutkan kuliah di Teknik Metalurgi dan Material UI melalui
jalur SNMPTN undangan. Jika pun tidak berhasil saya akan masuk melalui jalur
SIMAK. Setelah itu saya akan mendapatkan beasiswa Bidik Misi dan lulus dengan
IP diatas 3 lalu melanjutkan studi S2 ke Jepang! Aamiiin…” lalu aku
menggantungkan impianku pada pohon impian yang disambut tepuk tangan oleh
peserta lainnya.
Aku sangat bahagia hari
itu. Aku optimis bisa menjadi bagian dari civitas
academica UI dan membahagiakan orangtuaku kelak.
---00---
Aku terbangun dari
lamunan panjangku saat salah satu anak menepuk lenganku.
“Kak, ini jawabanku
udah selesai”
“Oh, iya..sini kumpulin
ke saya”
Aku benar – benar tidak
percaya bahwa impian yang aku tuliskan pada pohon impian itu menjadi nyata.
Kini aku berada di semester 2. Terlebih lagi aku bisa mendapatkan beasiswa
Bidik Misi sehingga aku tidak perlu merepotkan kedua orangtuaku dalam masalah
biaya. Terima kasih ya Allah, dan sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.
Aku percaya itu.
--00 Selesai 00--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar